Sunday, 1 November 2009

kaos

Kaos

BANDUNG bukan saja ibu kota Priangan, tetapi juga ibu kota per-kaos-an. Di ibu kota Provinsi Jawa Barat ini, kaos oblong alias T-shirt telah menjadi industri rakyat. Kaos menjadi penghidupan ribuan orang yang terlibat dalam proses pembuatannya.
Mari kita tengok kawasan Suci, sentra industri kaos di seputar Jalan Surapati, Cicaheum, Bandung. Di kawasan ini ada tak kurang dari 300 produsen kaos. Musim pemilihan kepala daerah alias pilkada—terlebih pemilu—merupakan masa panen bagi pelaku usaha kaos di Suci beserta ribuan karyawan mereka.
”Untuk kaos pilkada gubernur di Bandung kemarin saja, pesanan mencapai delapan juta potong. Jumlah itu menyebar, dikerjakan oleh banyak pabrik,” kata Marius Widyarto Wiwied, pengusaha kaos ”cap” C59.
Tahun 2008 ini memang menjadi masa panen besar. Pasalnya, di negeri yang sedang dimabuk demokrasi ini, pada kurun 2008 terjadi 40 pilkada, mulai pemilihan bupati, wali kota, dan gubernur. Dan jangan lupa, calon anggota legislatif alias caleg DPR dan DPRD juga ikut pesan kaos yang tentu saja bergambar diri sendiri sedang memakai jas berdasi. Pesanan itu datang dari berbagai penjuru seperti Kalimantan Timur, Lampung, Palembang, Bali, sampai Mimika.
Setiap pilkada, datang pesanan antara 15.000 sampai 500.000 potong kaos. Setidaknya itu menurut catatan Marnawie Munamah, Ketua Umum Koperasi Pengrajin Sentra Kaos Suci. ”Nomor (urut) belum turun saja sudah banyak yang memesan. Apalagi, setelah penentuan nomor urut calon, pesanan bisa dua kali lipat,” kata Marnawie.
Mengapa para pemesan memilih Bandung? Menurut Wawan Gunawan, pengusaha kaos dari konfeksi Planet Production, sentra kaos Bandung bekerja dengan semangat pasukan gerak cepat. Industri milik Wawan yang didukung 125 karyawan, misalnya, mampu melayani 25.000 kaos dalam sehari.
Wawan mulai berbisnis kaos sejak tahun 1998. Kini, sudah punya empat pabrik, dengan produksi rata-rata 500.000 potong kaos per bulan. Kaos itu umumnya diproduksi untuk memenuhi pesanan dari berbagai perusahaan, seperti perusahaan rokok, operator telepon seluler, atau perbankan. Sejak tahun 2004, dia banyak menerima order kaos untuk pilkada.
Menurut Wawan, pesanan untuk pilkada lumayan besar jumlahnya, mencapai sekitar 300.000 potong per bulan. Kaos itu biasanya dibuat dari bahan hyget yang murah dengan harga jual Rp 5.000 per potong. Satu partai atau calon kepala daerah biasa mesan sekitar 5.000 potong per satu desain. Keuntungan yang dikantongi hanya sekitar lima persen. ”Tak besar untungnya, tapi kalau pesanan banyak dan terus, itu bisa menghidupi produksi,” kata Wawan.
Dalam musim ramai pesanan itu, Wawan dan kawan-kawan mesti waspada. Pada tahun 2004, banyak rekan usahanya merugi, bahkan sampai gulung tikar, karena pesanan kaos tidak dibayar. Aris, seorang pengusaha kaos, merugi Rp 85 juta karena ada beberapa parpol yang tidak menebus pesanan kaos. Woah!
Penghidupan mandiri
Industri kaos di Bandung tumbuh sejak tahun 1980-an. Pada awal era itu, usaha kaos dikerjakan beberapa produsen saja, seperti C59, Christine Collection, dan Q. ”Saya masih memproduksi sekitar 60.000 potong pe bulan untuk kaos pesanan dan 50.000 potong untuk ritel,” kata Widyarto Wiwied, pendiri C59 yang termasuk pelopor bisnis perkaosan Bandung.
Setelah krisis moneter tahun 1997, kaos impor dari mancanegara semakin mahal. Akhirnya banyak yang memproduksi sendiri untuk dijual di pasar dalam negeri. Tahun 2000-an, tumbuh kaos yang diproduksi di rumahan untuk dipasarkan di jaringan distro, seperti dengan merek 347, Ouval, Airplane, Evile, dan Eat.
Industri kaos Suci tumbuh justru ketika krisis ekonomi tengah melanda negeri ini tahun 1998. Orang-orang yang kehilangan pekerjaan saat itu bertahan hidup dengan menyablon kaos dan mendirikan warung kaos di sekitar Suci. Kaos rupanya memberi mereka kehidupan sampai hari ini.
Salah satunya adalah Yayan Suryana (38) yang telah tiga tahun ini hidup dari pembuatan kaos di Suci. Mula-mula pria asal Majalaya, Kabupaten Bandung, ini kebagian peran sebagai buruh perapih jahitan bahan kaos dengan bayaran Rp 200.000 per minggu. Itu tiga tahun lalu. Dengan belajar dan dukungan dari majikan, perlahan ia mengerti berbagai proses produksi kaos.
”Sekarang saya naik pangkat jadi tukang obras. Nanti kalau sudah ada modal dan keahliannya bertambah, saya ingin mandiri. Majikan saya sudah mengatakan akan membantu bila anak buahnya ingin membuka usaha sendiri,” kata Yana.
Beberapa pengusaha kaos Bandung menggunakan semangat memandirikan karyawan. Farhad, Kepala Produksi Undersight, salah satu produsen clothing di Bandung, mengatakan industri kaos tidak sekadar melulu mengejar ekonomi. Proses mandiri membuat manusia menjadi lebih produktif. Hal itu dibuktikan adanya keinginan pekerja untuk mandiri mengembangkan usahanya.
Perry Tristianto, pengusaha sejumlah factory outlet (FO) di Bandung, misalnya, mendorong karyawannya untuk membuka usaha sendiri. Evita Farizca (33) adalah salah seorang karyawan di usaha FO milik Perry yang kini mempunyai usaha clothing sendiri sejak setahun lalu. Siang kerja di FO milik Perry, malam hari ia jalankan usaha pembuatan kaos bermerek 789.
”Modalnya hanya pesanan kaos dari teman. Saya membuat desain, membeli bahan, dan menjahitkan ke konfeksi. Kemudian saya pinjam uang dari teman untuk beli mesin jahit besar,” katanya.
Seluruh proses produksi—mulai dari membuat desain kaos, membeli bahan, memotong, menjahit, menyablon, sampai mengepak—dikerjakan sendiri. Usaha Evita berkembang. Kini dia bisa membeli beberapa mesin jahit sendiri, alat sablon, printer besar, dan printer untuk membuat film desain kaos. Karyawannya sekitar sembilan orang.
Menurut Widyarto Wiwied, jumlah perajin kaos rumahan di Bandung sekitar 800 orang. Adapun jumlah produsen kaos pabrikan di Bandung sekitar 100 pabrik. Kelompok distro di Jalan Sultan Agung-Trunojoyo sekitar 20-an toko distro. Itu belum termasuk di pelosok lain Bandung seperti Jalan Riau, Sultan Agung, dan lainnya. Soal merek yang banyak beredar dan dikenal di Bandung, mungkin jumlahnya mencapai 500 merek.
Rezeki kaos dari satu produsen itu menyiprat juga ke para pendesain, penjahit, penyuci, sampai pengepak. Bahkan lebih jauh lagi ke tukang es durian dan tukang jajanan yang dipastikan berjualan di depan FO atau distro di Bandung.
Kaos terbukti menghidupi rakyat—dan menjadi pakaian rakyat. Maka, jangan ganggu penghidupan rakyat. (Cornelius Helmy/ Dwi Bayu Radius)

sumber www.benih.net